Gunung Merbabu, Magelang

259-min

More than 750 words

Kali ini Saya mau menceritakan sedikit pengalaman Saya ketika mendaki Gunung Merbabu untuk yang kedua kalinya pada 4-6 Maret 2016. Alasan Saya mendaki adalah karna dari tiga hanya satu orang yang pernah mendaki Gunung Merbabu, dan itupun tidak sampai puncak.

Saya membawa sepatu gunung, celana training polar, logistik dan jaket waterproof.

Sesampainya di Pos via Wekas. Kami beristirahat sejenak, dikarenakan pada saat itu sedang gerimis. Setelah cuaca mulai membaik, sekitar jam 7 malam, kami mulai mendaki. Berbeda dari yang sebelumnya, teman-teman Saya yang ini lebih banyak beristirahat. Ketika di tengah perjalanan, kami beristirahat dan tak lama dari itu Saya mendengar suara gamelan. Saya sempat menghitung berapa lama suara itu, 3 detik. Saya diam sejenak, dan ternyata salah satu dari teman Saya mengatakan bahwa dia mendengar suara itu. Saya kaget, tapi Saya bersikap biasa-biasa saja pada saat itu. Dan kami langsung melanjutkan perjalanan.

Sekitar jam 10 malam, kami berhenti sejenak, ada beberapa teman Saya yang merokok dan beberapa diantara mereka membicarakan masalah gamelan tadi. Tak lama dari itu, terdengar suara seorang lelaki, awalnya seperti orang yang mengaji namun ternyata itu seperti nada pembuka sinden dan tak lama dari itu menyusul suara gamelan seperti mengiringinya. Kami langsung melanjutkan perjalanan.

Sampailah kami di basecamp tempat para pendaki mendirikan tenda, kala itu kami mendirikan tenda di tengah gerimis. Dan pada saat itu, Saya merasa bahwa mereka tidak bisa mendirikan tenda dengan benar. Sebenernya dari awal Saya sudah curiga, ketika sebelum berangkat mereka tidak bisa packing dengan benar, dan sekarang, mereka seperti seolah tidak mengerti mendirikan tenda itu.

Setelah tenda berdiri, kami memutuskan untuk beristirahat malam itu, dan anehnya, salah satu teman Saya justru memilih untuk tidur di luar tenda dengan modal sleeping bag dengan alasan ingin melihat bintang di malam itu. Dia tidur di luar.

Salah satu tujuan Saya ikut mendaki pada saat itu karna ingin melihat sunrise. Kita sempat berdebat mengenai jam berapa harus bangun pagi mengenai sunrise, dan hasilnya Saya setuju dengan mereka bahwa pada dasarnya sunrise, puncak dan sunset adalah bonus. Saya tidur sekitar jam 12 malam pada saat itu.

Sekitar jam 2 malam, temanku yang tidur di luar tiba-tiba masuk tenda, dia kedinginan. Saya menyuruhnya untuk mengambil sleeping bag-nya, tapi dia tidak mau karna tidak tahan dengan dinginnya malam itu.

Di pagi harinya, berbeda dari pendakian sebelumnya, ternyata sumber air tidak berfungsi, jadi kami hanya memiliki persediaan air yang sangat terbatas pada saat itu.

Sekitar jam 8 pagi, Kami melanjutkan perjalanan untuk ke puncak. Saya membawa carrier pada saat itu, yang di dalamnya terdapat jaket dan celana waterproof milik Saya, persediaan air, kamera Xiaomi Yi Action dan beberapa mie instan. Mereka pada saat itu hanya mengenakan kaos dan celana jeans pendek, dan hanya membawa tas sejenis side bag dan travel pouch. Saya sempat mengingatkan kepada mereka untuk membawa mantel atau sejenisnya, tapi mereka tidak membawa itu.

Ketika pada saat tracking, kami sempat foto-foto dan beristirahat sambil merebus mie, dan di bawah ini terdapat beberapa foto pada saat itu.

262-min

Setelah istirahat kami melanjutkan perjalanan, hingga pada akhirnya kita sampai di salah satu track atau jalan yang berbatu dan terjal. Setelah melewati track tersebut, kami istirahat dan tiba-tiba datang hujan. Hujan itu pada awalnya tidak lebat, namun lama-kelamaan hujan itu sangat lebat. Hujan itu berlangsung sekitar 2 jam.

Kami berteduh di bawah pohon dengan pendaki yang lainnya, menggunakan aluminium foil dan beberapa pendaki tersebut menggabungkan sepanduk dengan aluminium foil kami. Kalian bisa lihat video pada saat hujan; Gunung Merbabu pada 5 Maret 2016 01:13 PM di youtube Saya. Setelah hujan reda, kami memutuskan untuk kembali ke pos dimana kami mendirikan tenda. Ketika di perjalanan turun, diketinggian 2.700mdpl, Saya mendengar bunyi handphone, Ayahku menelpon. Pada saat itu, di seberang bukit dengan jarak sekitar 1km terdapat tower, Saya kurang tahu tower apa itu. Pada saat itu, Ayahku tidak marah.

Saya dan Irvin, menemani Irvan yang hipotermia untuk menggunakan aluminium foil. Sedangkan Bouthar, jalan lebih dulu dengan pendaki lain menuju pos via Wekas. Saya sampai pada di tenda sekitar jam 6 sore, dan melihat Bouthar yang menggigil kala itu. Saya berusaha menghangatkan Bouthar dengan memeluknya dan bersikap tidak panik, sedangkan Irvin memeluk Irvan. Kami memasak air dan memberikan campuran tolak angin di dalamnya. Kami memasak mie rebus dan memakannya bersama. Ketika malam tiba, kami beristirahat.

Kita tidak sampai puncak, namun Saya  merasa banyak belajar hari itu, dan Saya merasa sangat beruntung.

Di pagi harinya, Irvan dan Bouthar sudah baikan, dan kami meluangkan waktu untuk berfoto di dekat lembah itu.

280-min300-min306-min323-min289-min308-min

Setelah berfoto-foto, kami mempersiapkan diri untuk pulang jam 9 pagi dan sampai di Pos Awal jam 12, lalu kembali menuju Jogja. Terimakasih, wassalammualaikum..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s