Gunung Merbabu, Magelang

200

More than 250 words

Kali ini Saya mau membahas mengenai perjalanan Saya menuju Gunung Merbabu untuk yang ketiga kalinya dengan teman Saya Muhammad Alwi Arsyad. Saya menuju Magelang dari Jogja jam 12.15 WIB.

Ketika di perjalanan menuju Selo

Nanya Orang
Alwi: Kiri feb.
Aku: Shaap
Alwi: Stop feb, tanya orang dulu.
Aku: Shap
Sesaat kemudian…
Alwi: Masih 16 kilo feb

Lalu kami melanjutkan perjalanan. Ketika di perjalanan, kami banyak tertawa.

Nanya Orang lagi
Alwi: Mas, arah selo kemana ya?
Mas-mas: Lurus terus mas, masih 8 kilo lagi
Tiba-tiba mbak-mbak keluar
Mbak-mbak: 10 kilo yoo
Mas-mas: Bukan 8 kilo po?
Mbak-mbak: 10 kilo mas
Trus mereka debat, trus kita langsung pergi. Wkwkwk

Camp Selo
Kami sampai di Camp Selo sekitar jam 15.30. Kami melakukan pendakian sekitar jam 16.00, tidak lama dari itu ketika di perjalanan pada jam 18.30 hujan lebat. Kami berteduh di salah satu gubuk di bukit Gancik. Sambil menunggu hujan lebat itu reda, dia berkata.

Alwi: Pada saat ini, uang gak artinya.
Saya: Yang sangat berarti nyawa.
Alwi: TEMAN CUK!!
Saya: Wkwkwkk!!
Alwi: Kalau aku hipo, kamu cuk yang aku andalin.
Saya: Engga ah, nanti paling logistikmu tak ambil, trus kamu tak tinggal.
Alwi: Ohh!

Tak lama dari itu ada beberapa pendaki yang mengabarkan bahwa pos 1 dan pos 2 (tempat berkemah) sedang terjadi badai. Kami tetap melanjutkan perjalanan, dan tidak lama dari itu meskipun kami mengenakan jaket waterproof dan mantel, kami langsung basah kuyub. Kami memutuskan untuk kembali ke Bukit Gancik.

Saya berada di dalam tenda jam 19.14. Kami tidak sanggup menahan dingin pada saat itu. Kami memutuskan untuk beristirahat. Kami memasak air, dan makan. Saya sulit tidur pada saat itu. Kami mengobrol, bercerita, curhat, dan pada saat itu Saya jadi lebih mengenal Alwi (Orang yang pertama menemani Saya mendaki). Kami banyak menghabiskan waktu di tenda, bisa liat sedikit videonya disini.

Sekitar jam 10/11 malam, itu hujan sangat lebat dan diiringi angin yang kencang. Bahkan setiap 1 atau 2 jam sekali Saya terbangun karna angin yang kencang itu. Alwi pada saat itu bercerita bahwa dia takut kalau hari itu adalah hari terakhir mendaki, wkwk. Penakut lho!!

Saya bangun sekitar jam 6 pagi, badai sudah reda, bahkan ada suara beberapa wanita di sebelah tenda berbicara (seperti curhat), trus Saya berbicara dari dalam tenda. OTW!! Trus mereka malah lari, wkwkwkkw. Trus Saya tidur lagi.

Kami bangun sekitar jam 8, masak aer biar mateng, biar anget maksudnya. Dan jam 8.14 itu kembali hujan. Kami makan mie dan buah naga ditengah hujan yang kunjung reda. Sekitar jam 12 siang.

Alwi: Pulang yuk
Saya: Oke.

203205

Kami memutuskan untuk tidak melanjutkan pendakian dikarenakan hari senin besok Saya ada magang, dan Alwi pun sudah tidak berkeinginan lanjut dikarenakan peralatan kami sudah basah terkena hujan.

216

Kali ini Saya banyak belajar, bahwa terkadang kita harus menerima kenyataan dan mengikhlaskan keinginan yang tidak tercapai karena suatu keadaan. Sekian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s